Saturday, December 10, 2011

Listed vs Unlisted Piping Componet

"Kang, sampeyan wis selo durung? Mbok yg obrolan yg dulu diteruskan"
Yo wis, nggo tombo ngantuk. Dilanjut ya ki dalang....
Standard Piping Component
Memberikan dimensi dan rating yg konsisten sehingga memungkinkan komponen dapat dipasangkan dan bisa ditukar-tukar (interchangeable). Standard Piping Component terbagi menjadi :
a. Listed component
Silakan dilihat di table 326.1 dan appendix A dari ASME B31.3. Misalkan saja :
ASME B16.5, flange (size sampai 24” kecuali size 22”)
ASME B16.47, flange (size 26” s/d 60”)
ASME B16.9, wrought butt welding fitting
ASME B16.10,  Face-to-Face and End-to-End Dimensions of Valves
ASME B16.11, Forged Steel Fittings, Socket-Welding and Threaded
ASME B16.20, Metallic Gaskets for Pipe Flanges-Ring-Joint, Spiral-Would, and Jacketed
ASME B16.21, Nonmetallic Flat Gaskets for Pipe Flanges
ASME B16.34, Valves - Flanged, Threaded, and Welding End
ASME B16.48, Steel Line Blanks
Dan lain-lain, buanyak banget soalnya. Lihat sendiri ya? Yg listed ini dapat digunakan sesuai dengan pressure temperature ratingnya dan limitasi tambahan sesuai yg dinyatakan oleh code atau Client’s spec.
b. Unlisted Component
Misalkan ASME B16.33, B16.50, MSS SP-68, MSS SP-108, API-6D, AWW C153 dll.
“ Sik-sik, yg listed component kan udah pasti boleh dipake. Trus kalo yg unlisted ini boleh dipake nggak?”.
Wee, ya boleh aja to ya? Siapa bilang gak boleh…. Cuman, B31.3 punya guidance. Aku punya cerita agak menggelikan untuk masalah ini. Sebenernya aku agak malu untuk bercerita, soalnya ini akan membuka aib. Perusahaan kelas apakah yg sebenernya dimana aku saat ini berlabuh. Tapi ya sudahlah, buat pembelajaran ya ndak apa-apa.
Suatu ketika datanglah sebundel PAN (Project Advice Note), mungkin tempat lain bilangnya concession request ataupun TQ (Technical Query). Pendek kata (wuih pendek kata, kayak SBY aja...), PAN itu isinya bahwa dia mo pakai concentric reducer 18 x 14 dengan memotong reducer 18 x 12 yg dia sudah punyai. Maksudnya itu aku mo nggaya nggak bolehin aplikasi ini. Aku rejectlah PAN dari Kontraktor yg klo di kampong dia dugaan saya punya becakan sebagai pawing ular. Hehehe  aku lihat ntah yes atau no, orang ini selalu melengkapi jawabanyya dg geleng-geleng kepala. Persis kayak ular sendok (kobra) menari-nari mendengar tiupan seruling sang pawang.
“Ojo ngece kang, ntar kualat loh… hehehe”
Hehehe aku reject lah Pan orang tersebut dengan aku tulis, Manakala reducer 18 x 12 dipotong menjadi 18 x 14 maka reducer tersebut tidak lagi conform dg requirement dari ASME B16.9. Manakala itu nggak sesuai dengan B16.9, maka fitting tersebut sudah sudah termasuk sebagai unlisted piping komponen dari B31.3. Dalam penggunaannya, serangkaian analysis musti dilalui untuk qualifikasi.
“Trus gimana itu kelanjutannya kang?”
Dasar namanya pawang ular, kata orang-orang yang pernah banyak berinteraksi dg mereka punya ilmu kodok. Itu yg membuat mereka survive dimana-mana.
“Ilmu kodok gimana kang?”
Ya itu, lihat gimana kodok berenang…! Dengan kakinya dia akan injek bawahan, dengan tanggannya dia akan sikut kiri kanan. Trus dingan lidahnya dia akan menjilat atasan.
“wakakkk, kang Sarmin ini bisa aja…. Trus apa hubungannya dg cerita fitting td?”
Minggu depannya, kontraktor ini dating dengan PMku, client asli peci miring. Dengan ilmunya tadi, justru aku yg dimarahi. Intinya, gimana caranya agar aku bisa accept yg mereka propose kan. Yow is karepmu, plant punyakmu, baik buruknya ya terserah dirimu.Wong duwite duwekmu, yo sak karepmu. Aku ra melu-melu. Masak sy cuman jd tukang stamp kok mau macem2. Cuman biar secara teknis bisa aman, ya tak jawab aja The proposed application is technically acceptable. However, requirement of para 304.7.2 of ASME B31.3 shall be followed. Ra urus, sak karepmu. Iso po ora follow requirement, dudu urusanku. Golek amane dewe-dewe. Hahaha.
“Emang sebenernya apa sih ketentuannya untuk yg unlisting piping component itu?”
Jadi, sebenernya yg unlisting component itu sebenarnya bisa digunakan, dengan limitasi sebagai berikut:
-          Mempunya dimensi  yang sesuai dengan apa yg sudah praktis digunakan sesuai dengan yg sudah listed component
-          Memberikan kekuatan dan performa yg sama dengan komponen standar
-          Memenuhi salah satu dr kriteria berikut :
o   Komposisi, fifat mekanis, manufaktur, quality control sebanding dengan listed komponen dan temperature ratingnya sesuai dengan para 304 dr B31.3
o   Diqualifikasi untuk pressure design sesuai yang dinyatakan oleh para 304.7.2 dr B31.3.
Para 304.7.2 dari B31.3 :
Calculations and documentation showing compliance with paras. 304.7.2(a), (b), (c), or (d), and (e) shall be available for the owner’s approval
(a) extensive, successful service experience under comparable conditions with similarly proportioned components of the same or like material.
(b) experimental stress analysis, such as described in the BPV Code, Section VIII, Division 2, Annex 5.F.
(c) proof test in accordance with either ASME B16.9, MSS SP-97, or Section VIII, Division 1, UG-101.
(d) detailed stress analysis (e.g., finite element method) with results evaluated as described in Section VIII, Division 2, Part 5. The basic allowable stress from Table A-1 shall be used in place of the allowable stress, S, in Division 2 where applicable. At design temperatures in the creep range, additional considerations beyond the scope of Division 2 may be necessary.
(e) For any of the above, the designer may interpolate between sizes, wall thicknesses, and pressure classes, and may determine analogies among related materials.
“ wah, klo gak listed, agak rumit juga ya”
Hehehe rasah dipikir….

Friday, December 9, 2011

Code Vs Standard

Kemarin saat menikmati weekend (liburnya Kamis & Jum’at red) di kontrakan sambil nonton Awas Ada Sule 2 di Global TV, saya terima BBM dr seorang kawan lama.  
“Kang, menurut sampeyan, apa sih bedanya Code sama Standard?”
Ceileh, pake BB nih ye….. hehehe Hush, BB bukan lg barang mewah tau. Terpaksa pakai BB soalnya biar lbh ngirit untuk Komunikasi dg sodara di kampong. Maklum, di Negara yg agak ndeso ini, Voip seperti Skype diblokir. Satu-satunya cara biar komunikasi murah dan lancer ya via BBM. Maklum, saat terpaksa beli BB belum kenal WashApp sih. Lagian gak yakin juga aplikasi itu bisa apa nggak di negara tempatku mengais rejeki sekarang. Wong pake paket BB 2 OMR (1 OMR sekitar 23 ribu repes) per week aja fitur yg didapatkan katrok, Cuma dapet BBM dan data 100 MB. Push email yahoo gak bisa, klo gmail masih bisa. Facebook dan Twitter jg katrok, meski lewat internet explorer. Hihi ojo diguyu yo….
Pernah suatu ketika antri beli makan di KFC Mall Depok (sekarang Dmall ya?), lihat babysitter lagi BBM-an sambil angon sang anak majikan. Kontan aja ngejek istri, Lihat tuh, HP ibu kalah canggih sama HPnya babysitter. Istriku manyun aja, ya iya lah masak Esia Hidayah dibandingkan sama BB. Melihat begitu masifnya pasaran BB di Indonesia, tidak selayaknya RIM mengabaikan sentilan dr Menkominfo. Saya sebagai orang awam setuju jika Menkominfo ‘menjewer’ RIM untuk tidak hanya sekedar buka lapak di Indonesia.
“Kang, ojo nglantur. Dilarang komentar untuk sesuatu yg bukan kapasitasnya untuk berkomentar….”
Hehehe dipersori ya, malah nglantur….
Coro “Bodhon”, perbedaan piping codes dan piping standard dapat dinyatakan sebagai berikut :
Piping Codes
Piping Code menyatakan requirement design, fabrikasi, penggunaan material, test dan inspeksi terhadap piping systems.
Sebuah code dibatasi oleh yurisdiksi (wilayah hukum) seperti yang tertuang pada code itu sendiri.
ASME B31.1, cakupannya ya Power Piping
ASME B31.3, cakupannya ya Process Piping
ASME B31.4, cakupannya ya Liquid Transportation Pipeline
ASME B31.5, cakupannya ya Refrigeration Piping
ASME B31.8, cakupannya ya Gas Transportation Pipeline
ASME B31.9, cakupannya ya Building Service Piping
ASME B31.11, cakupannya ya Slurry Transportation Pipeline
ASME Sec VIII, cakupannya ya Boiler & Pressure Vessel
Dll…

Di dalam code, sudah memasukkan berbagai piping standard untuk diaplikasikan di dalam mendisain suatu plant.

Piping Standards
Piping standards menyatakan aplikasi disain, construction rule dan requirement tentang piping komponen seperti flange, fitting, valve, dll.
Sebuah standard mempunyai batasan seperti skope yg didefinisikan oleh standard itu sendiri, misalkan:
ASME B16.5, cakupannya flange (size sampai 24” kecuali size 22”)
ASME B16.47, cakupannya flange (size 26” s/d 60”)
ASME B16.9, cakupannya wrought butt welding fitting
ASME B16.10,  Face-to-Face and End-to-End Dimensions of Valves
ASME B16.11, Forged Steel Fittings, Socket-Welding and Threaded
ASME B16.20, Metallic Gaskets for Pipe Flanges-Ring-Joint, Spiral-Would, and Jacketed
ASME B16.21, Nonmetallic Flat Gaskets for Pipe Flanges
ASME B16.25, Buttwelding Ends
ASME B16.34, Valves - Flanged, Threaded, and Welding End
ASME B16.48, Steel Line Blanks
Dll…..

Wednesday, December 7, 2011

Korosi

"Kang, ayo lanjutin yg kemarin...."
Opo sih? Nek bar gajian opo maneh gajiane telat ngene iki marahi aku males mikir je....
"Yach... Kowe ki piye to kang?? Wis digaji dolah kok isih nggresula wae... Lihat itu, TKI yg lain dibela-belain toh nyowo"
Yo wis, diselingi sik yo? Ini tak copy paste oleh2ku dari sekolah ya... Ojo diguyu yo, meskipun cumak ginian, mbayarnya mahal loh.... Dibela-belain hutang segala. Nah karena punya hutang itu lah, maka kakangmu ini rela jauh-jauh menggadaikan harga diri yg tidak seberapa ini untuk jd TKI di negeri orang. Wakakak... Bener kata orang, "dengan utang, hidup menjadi lebih hidup". Utang adalah motivator ulung, mengalahkan Mario Teguh Golden Gate....
"Walah, malah dadi curhat"
Yo wis, monggo dilanjut Ki Mantebb....

Definisi Korosi
Korosi dapat didefinisikan sebagai degradasi material atau sifatnya oleh reaksi elektrokimia ketika berinteraksi dengan lingkungannya. Korosi mengembalikan logam kepada kondisi yang sama atau bahkan identik dengan mineral dimana logam diekstrasi. Oleh karenanya, korosi juga sering disebut dengan metalurgi ekstraksi terbalik.
Untuk korosi dapat terjadi, ada tiga elemen dasar yang harus terpenuhi :
-  Elektrolit, yaitu larutan yang dapat menghantarkan arus listrik
-  Anoda, yaitu material/logam mengalami oksidasi (logam yang terkorosi)
-  Katoda, bagian logam mengalami reduksi (logam yang tidak terkorosi)
Reaksi Anodik
Anoda adalah sisi logam yang terkorosi dimana desolusi logam berlangsung. Logam terdesolusi dan memindahkan ion  logam ke dalam larutan. Atom bermuatan positif terlepas dari permukaan dan masuk ke dalam elektrolit sebagai ion. Elektron sebagai arus listrik mengalir ke katoda yang akan mengkonsumsi elektron. Proses ini dikenal sebagai proses oksidasi.
Reaksi anodik pada logam secara umum dapat dituliskan sebagai berikut :
   M => M n+ + ne - 
Sebagai contoh logam besi (Fe), reaksi anodik akan berlangsung seperti :
 Fe => Fe 2+ + 2e-
Reaksi Katodik
Elektron mencapai katoda melalui logam. Reaksi katodik adalah reaksi yang mengkonsumsi elektron sehingga disebut juga sebagai proses reduksi.  Sebagai contoh, ion H+ yang terdapat pada elektrolit asam akan membentuk gas hidrogen.
Bentuk reaksi katodik yang mungkin terjadi pada korosi sebagai berikut :
a.       Evolusi hidrogen pada lingkungan asam
2H+ + 2e- =>H2 (gas)
b.      Reduksi oksigen pada lingkungan asam

2H2O + 4e- =>H2 (gas) + 2OH-

c.       Reduksi oksigen pada lingkungan netral dan alkalin

O2 + 2H2O + 4e- => 4OH-

d.       Reduksi ion logam
Fe 3+ + 2e- => Fe2+ 

Diagram Pourbaix
Diagram potensial/pH atau sering disebut sebagai diagram Pourbaix bisa dianggap sebagi peta yang menunjukkan kondisi potensial (oxidizing power) dan pH (keasaman ataupun kebasaan) untuk berbagai kemungkinan fase stabil dalam sistem elektrokimia. Garis batas diagram membagi area kestabilan untuk fase yang berbeda yang diturunkan dari persamaan Nerst.  Diagram Pourbaix dapat digunakan untuk memperkirakan apakah logam akan berada dalam kondisi terkorosi, imun ataukah dalam kondisi pasif. Namun, prediksi tentang laju korosi tidak dapat dilakukan dengan diagram Pourbaix ini.

Bentuk-Bentuk Korosi
a.  Korosi Seragam (Uniform Corrosion)
Korosi seragam merupakan bentuk korosi yang paling  umum. Korosi seragam dicirikan dengan reaksi kimia atau elektrokimia yang berlangsung seragam pada seluruh permukaan yang terpapar. Logam menjadi menipis dan pada saatnya akan mengalami kegagalan. Korosi seragam dapat dicegah dengan cara pemilihan material yang baik, coating, inhibitor dan proteksi katodik.
 b.  Korosi Galvanik (Galvanic Corrosion)
Perbedaan potensial biasanya terjadi antara dua logam berbeda ketika berada pada lingkungan korosif atau konduktif. Jika logam-logam ini diletakkan bersentuhan atau terhubung secara elektrik, perbedaan potensial menghasilkan   aliran elektron. Korosi pada material yang lebih kecil ketahanan korosinya akan meningkat, sementara korosi pada material yang lebih tahan akan berkurang jika dibandingkan dengan masing-masing logam jika keduanya tidak terhubung.
Material yang lebih rendah ketahanan korosinya menjadi anoda dan material yang lebih besar etahanan korosinya menjadi katoda. Umumnya logam katodik hanya sedikit terkorosi atau bahkan tidak terkorosi.
 c.  Korosi Celah (Crevice Corrosion)
Korosi celah merupakan korosi lokal yang terjadi pada celah dan area penutup lainnya pada permukaan logam yang terpapar pada media korosif. Bentuk korosi ini biasanya diikuti dengan sejumlah kecil larutan yang diam yang disebabkan oleh lubang, permukaan gasket, sambungan  lap joint, permukaan deposit serta celah antara baut dan kepala rivet. Sehingga bentuk korosi ini disebut dengan korosi celah.

d.  Korosi Sumur (Pitting)
Pitting adalah bentuk korosi lokal ekstrim yang menghasilkan lubang pada logam. Lubang pit bisa berdiameter besar atau kecil namun umumnya lubangnya relatif kecil.  Pitting bisa menyendiri atau saling berdekatan sehingga kelihatan seperti permukaan kasar. Umumnya  pitting digambarkan sebagai rongga atau lubang dengan diameter lubang kira-kira lebih kecil dan atau sama dengan kedalamannya. Pitting merupakan salah satu bentuk korosi merusak karena susah untuk dideteksi, bentuk korosi lokal dan sering menyebabkan kegagalan yang katastropik. Contoh kasus kegagalan pitting adalah pitting pada baja tahan karat yang disebabkan oleh klorida dan kandungan ion Cl.
 e.  Korosi Batas Butir (Intergranular Corrosion)
Intergranular corrosion merupakan bentuk korosi lokal yang terjadi pada dan atau dekat dengan batas butir dengan relatif sedikit korosi pada butir sehingga paduan logam rusak atau kehilangan kekuatannya. Korosi batas butir dapat disebabkan oleh impuritas pada batas butir, pengayaan salah satu unsur paduan dan kehilangan salah satu unsur paduan pada daerah  batas butir. Contoh kasus   adalah fenomena sensitisasi pada baja tahan karat dimana terjadi penipisan unsur Cr pada area batas butir sehingga rawan terjadi intergranular corrosion.
 f.  Selective Leaching
Selective leaching merupakan penghilangan salah satu unsur dari paduan solid oleh proses korosi. Contoh kasus yang paling  umum adalah penghilangan selektif dari seng (Zn) dalam paduan kuningan yang  disebut dengan dezincification.
 g.  Korosi Erosi (Erosion-Corrosion)
Erosion-corrosion merupakan percepatan atau peningkatan laju deteriorasi atau serangan logam oleh pergerakan relatif antara fluida korosif dan permukaan logam. Umumnya melibatkan pergerakan yang cepat dan efek keausan atau abrasi. Logam hilang dari permukaan sebagai ion terlarut atau membentuk produk korosi solid yang secara mekanis menyapu permukaan  logam. Korosi erosi dicirikan dengan ditemukannya alur (groove), bentuk selokan, bentuk gelombang, lubang melingkar dan lembah yang menunjukkan pola arah.
 h.  Stress Corrosion Cracking (SSC)
SSC mengacu kepada terjadinya  cracking yang disebabkan oleh keberadaan yang simultan antara logam yang rawan, tegangan tarik dan media tertentu yang korosif. Morfologi retakan dapat terjadi dengan menyusuri batas butir (intergranular) ataupun membelah batas butir (transgranular). Tidak semua kombinasi logam-lingkungan rawan terjadi SSC. Sebagai contoh,  stainless steel rawan terjadi retakan pada lingkungan klorida tapi tidak pada lingkungan amonia sedangkan kuningan rawan retak pada lingkungan amonia tapi tidak pada lingkungan klorida.  Stainless steel tidak rawan terjadi retakan pada asam sulfat, asam nitrat dan asam asetat tapi rawan terhadap klorida dan kaustik.

Tuesday, December 6, 2011

Seleksi Piping Komponen (Logam)

“Kang, mbok sing wingi iku dilanjut…!”
Meh takon opo cah bagus? Tanya apa?
“Kang, tandanya bahwa sebuah system perpipaan itu gagal apaan sih”.
Menurutmu kira2 apa? Cara gampang yak klo sebuah system perpipaan itu bocor, itu sudah bisa dikatakan gagal. Apalagi crack, penyok, njebluk opo maneh? Cuman musti diingat, seandainya harus gagal, klo bisa kegagalan itu jangan sampai catasthropic. Jangan sampai tiba2 saja system udah hancur. Ojo nganti, mak jegagik njebluk. Klo bisa, kayak wong Londho bilang, leak befor break. Biar kalau gagal ya mbok iyao leak dulu aja, jangan njeblok biar bisa ditambal dulu kasih penguat atau biar ada waktu untuk shutdown biar bisa diperbaiki.
“Ooo gitu ya? Terus biar bisa gitu, cara milih Piping Komponen itu gimana?
Setidaknya, kita musti ngerti dikit2 lah apa basisnya dlm pemilihannya. Seperti  misalnya:
-          Pressure class/rating
-          Reliability: menyangkut robustness, fire resistant, blow out resistance, tendency to leak
-          Material of Construction : menyangkut corrosion resistant, material thoghness
-          Harga
“Panganan opo kui kang? Hehehe”
Husss…. Sik rungokke yo, ojo turu….
Pressure Class :
Rating dr metallic system umumnya ditentukan oleh sambungannya, dan yang paling sering adalah sambungan Flange yang biasanya mengikuti ASME B16.5 (metallic flange) atau B16.1 (iron flange). Rating untuk flange(dan beberapa komponen lain seperti forged fitting)ditentukan oleh pressure class.
Robustness :
Dapat menahan paparan beban (load) seperti terinjak orang, kejatuhan peralatan, kejatuhan box peralatan, kesenggol forklift, truck atau boom crane. Ora gampang mleyok ngono loh….
“Ooo klo gitu, body mobil di Indonesia nggak bisa dipilih sebagai material piping dong? La dipegang aja udah mleyok je… hehehe”
Husss dengkulmu mlocot….
Fire resistance :
Komponen dapat menjaga integritas system perpipingan dikarenakan paparan suhu sekitar 650 degC selama sekitar 30 menit.
“Loh, fire resistance iku berarti bukan bermaksud bahwa material tersebut tidak rusak jika terjadi kebakaran, gitu ya…?
Hehehe setidaknya, bahwa dengan waktu segitu itu klo ada kebakaran orang msh bisa lari menyelamatkan diri. Gimana klo pas mo lari malah kejatuhan pipa panas? Ora mung benjut ning mesti langsung kuburan….
Komponen yang mempunyai fire resistance digunakan untuk :
-          Dimana ada kemungkinan terjadi kebakaran
-         Ada akibat yg bisa diakibatkan oleh adanya kegagalan system perpipingan, seperti  penambahan minyak ke kebakaran atau membahayakan pemadam kebakaran jika terjadi kebocoran.
Material agar masih tetap mampu beroperasi setelah terjadi kebakaran biasanya tidak jadi pertimbangan.
Blow Out Resistance :
Gasket dan seal harus mampu menahan tekanan tinggi tanpa mengalami kegagalan karena ekstrusi atau fracture.
Kalau seandanya Cuma bocor2 kecil, itu masih bisa dilakukan dengan pengencangan baut. Maksud dr Blow Out resistance terutama untuk menghindari terjadi kebocoran besar, misalkan karena :
-          Ketika sambungan flange tidak dikencangkan dengan baik
-          Sistem perpipingan mengalami tekanan tinggi lebih dari tekanan disainnya
-          Sambungan flange mengalami bending momen yg besar.
Tendency to Leak :
Sambungan tertentu cenderung mudah bocor dibanding tipe sambungan lain. Sambungan yg cenderung mudah bocor kurang cocok untuk high pressure ataupun fluida yg beracun. Misalnya, threaded joint, unions, elastomeric seal.
Corrosion Resistance :
Seandainya sifat korosinya adalah general/uniform corrosion, system perpipingan cukup diberikan Corrosion Allowance. Prediksi korosi yg terjadi selama design lifetime diberikan allowance ketebalannya untuk tetap mampu menahan internal pressure sampai dengan habis masa design lifetimenya. Namun kalau ternyata bahwa besarnya corrosion allowance yg harus diberikan itu lebih dr 6 mm, direkomendasikan untuk memilih CRA.
Namun jika korosinya bersifat localized seperti stress corrosion cracking, hydrogen embrittlement ataupun intergranular corrosion, corrosion allowance bukanlah solusi. Material selection adalah kuncinya.
Material Toughness :
Diukur sebagai energy yang diperlukan untuk secara tiba-tiba crack merambat hingga failure.Umumnya yg menjadi concern adalah material Carbon steel terutama jika terpapar kepada temperature rendah. Kegagalan kapal Titanic ataupun kapal Liberty menjadi contoh menarik bagaimana terjadinya brittle fracture oleh temperature rendah.
Faktor yang mempengaruhi fracture toughness sebagai berikut :
-          Komposisi kimia atau unsur paduan
-          Heat Treatment
-          Grain size

Sunday, December 4, 2011

Pengenalan ASME B31.3

“Kang Sarmin, Katanya sampeyan ini Piping Engineer ya?”
Hehehe menurut CVnya sih iya, klo kemampuannya ya wakaranai. Soal CV kan pandai2nya ngecap, namanya juga orang jualan. Ya nggak? Emangnya kenapa?
“ Iya sih. Ngak papa kok, cuman pengin tau aja klo dunia persilatan kan masing2 aliran ada semacam kitab yg suka dijadikan acuan. Klo kitabnya orang2 di dunia perpipingan ada nggak?”
Oh itu. Itu sih ada, orang2 nyebutnya Code. Yg paling terkenal sih B31. Series. Hehehe cuman nggak seperti di dunia persilatan yg kitabnya tdk boleh jatuh ketangan pendekar berwatak jahat. B31 series udah banyak yg nyuri. Pirate gitu lah. Abis gaji engineer-nya gak cucuk untuk beli kitabnya yg dijual pake Dolah…. Ssst… jangan bilang2 ya klo saya juga nyuri. Nih tak critain sekilas tentang B31. Tapi sebelumnya musti tau dulu, piping itu apa?
Piping : Assembly dari piping component yg digunakan untuk mengalirkan fluida.
Piping System : Interconnecting antara piping yang memiliki kondisi design yang sama.
Contoh B31 Series itu sebagai berikut :
B31.1 : Power Piping
B31.3 : Process Piping
B31.4 : Liquid Transportation Pipeline
B31.5 : Refrigeration Piping
B31.8 : Gas Transportation Pipeline
B31.9 : Building Service Piping
B31.11 : Slurry Transportation Pipeline
Nah yg paling sering dijadikan pegangan wajib oleh Piping Engineer biasanya B31.3, Process Piping.  B31.3 ini suka jd rujukan untuk petroleum refinery, chemical, pharmaceutical, textile, pulp n paper dan juga cryogenic piping.
“ Kang, B31.3 itu isinya apa aja toh?”
Diantaranya, B31.3 itu mengatur ketentuan tentang material dan komponen piping, disain, fabrikasi, assembly, erection (mau nulis ereksi ndak dikira saru), examination, inspection, testing dr system perpipingan.
“Kang, kok system perpipingan bukan system perpipaan. Emang beda ya?”
Yo embuh, nek boso londo ono Piping trus ono plumbing. Klo ditranslate ke Bahasa, dua-duanya system perpipaan. Padahal, jan-janya cakupannya beda. Klo plumbing itu untuk building. Makanya , biar nyleneh ijinkan aku pakai system perpipingan ya? Ojo diguyu loh….
“Waduh, aku dulu kan pernah ngrouting instalasi air bersih dan instalasi air kotor waktu mbangun rumahnya pakde Slamet itu tidak bsa diartikan Piping Engineer ya? Tiwas arep nggaya…”
Hush… nyepelekke. Mo dilanjut nggak?
Jadi, B31.3 itu bisa dipakai untuk mendisain macem-macem fluida seperti
-          Raw, intermediate, finish chemical
-          Petroleum product
-          Gas, steam, air dan water
-          Fluidized solid
-          Refrigerant
-          Cryogenic fluid
“ weee, banyak ya aplikasinya? Tapi, sik-sik-sik…. Kira2 ada nggak ya fluida yg nggak tercover sama b31.3”
Ada lah Dab…! Perpipingan ecek2 yang non pressurized (kurang dr 15 psig) dan tidak toxic/flammable, kasian klo hrs ikut aturan B31.3. Trus piping di dalam package boiler, itu jg nggak tercover soalnya udah dicover sama B31.1.
“Kapan2 aku mbok dijlentrehke siji mboko siji yo kang….”
Sebelum mengupas satu demi satu, ada baiknya perlu diketahui tanggung jawab masing2 pihak yg bersangkutan. Koyoto :
-          Sing nduwe gawe/Owner/Client/Agan
        Client punya kewajiban untuk terciptamya kesesuaian dengan Kode, dan menetapkan requirement untuk design, construction, examination, inspection, testing untuk dijadikan acuan keseluruhan disain termasuk piping. Client jg bertanggung jawab dlm menamakan/mengklasifikasikan piping fluid dan menentukan system quality tertentu untuk diterapkan.
-          Designer/Engineer
        Bertanggung jawab pada Juragan/Client untuk memastikan engineering designnya sesuai dengan Code dan ketentuan tambahan lainnya yg telah ditentukan Client.
-          Manufacturer/Fabricator/Erector
Bertanggung jawab menyediakan material, komponen dan workmanship yang sesuai dengan ketentuan Code dan Engineering Design.
-          Owner Inspector
Bertanggung jawab pada Client untuk memastikan bahwa ketentuan dari Code tentang insteksi, examination dan testing telah terpenuhi. Jika ketentuan Quality System dinyatakan oleh Client, Inspector juga bertanggung jawab memastikan implementasinya.
“Wuih, bedo2 yo kang? La terus sampeyan di posisi mana?”
Hehehe nek aku tergantung siapa yg mau mbayarin, aku manut saja. Pokoknya palugada, apa lu mau gua ada. Wakakak.
Dilanjut dulu ya, sebelum dijlentrehkan satu per satu, ada baiknya diketahui klasifikasi fluida dalam B31.3. Lanjut gan….

Category D Fluid Service: a fluid service in which all the following apply:
(1) the fluid handled is nonflammable, nontoxic, and not damaging to human tissues as defined in para. 300.2 of B31.3
(2) the design gage pressure does not exceed 1035 kPa (150 psi)
(3) the design temperature is from −29°C (−20°F) through 186°C (366°F)
Category M Fluid Service: a fluid service in which the potential for personnel exposure is judged to be significant and in which a single exposure to a very small quantity of a toxic fluid, caused by leakage, can produce serious irreversible harm to persons on breathing or bodily contact, even when prompt restorative measures are taken.
High Pressure Fluid Service: a fluid service for which the owner specifies the use of Chapter IX for piping design and construction; see also para. K300 of ASME B31.3
Normal Fluid Service: a fluid service pertaining to most piping covered by this Code, i.e., not subject to the rules for Category D, Category M, or High Pressure Fluid Service.
D Fluid biasanya dikarakterisasi sebagai “Utility”, M Fkuid dikarakterisasi sebagai “Lethal”, High pressure fluid service dikarakterisasi sebagai “High Pressure” dan Normal Fluid dikarakterisasi sebagai “Process”.
Whoahemm… Ngantuk dab, teruske kapan kapan yo…..